Sering terjadi salah pengartian antara pensil bibir (lip pensil) dengan lip liner. Lip Liner berfungsi mengoreksi bentuk bibir dan sekaligus bisa membuat awet tampilan lipstik Anda. Bisa digunakan dalam dua cara, cukup dengan menggaris tepi bibir sebagai bingkai; atau mengulaskan secara menyeluruh sesudahnya. Sedangkan lip pencil bentuknya lebih ringan dan lebih mudah mengaplikasikannya ketimbang lip liner Lebih mudah untuk menggambar bahkan bisa dikreasikan. Kekurangannya, pinsil bibir ini bisa membuat bibir kering.

Pensil bibir merupakan produk yang memanfaatkan sifat-sifat dispersif Cera Bellina untuk menghasilkan suatu produk yang melapisi dengan mudah, dan meninggalkan warna yang tahan air. Formulasinya adalah :
Continue to Read

Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya. Sedangkan antiseptik didefinisikan sebagai bahan kimia yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan hidup. Bahan desinfektan dapat digunakan untuk proses desinfeksi tangan, lantai, ruangan, peralatan dan pakaian.

Continue to Read

Mikromeritika adalah ilmu dan tekhnologi mengenai partikel kecil. Pengetahuan dan kontrol dari ukuran partikel penting dalam ilmu farmasi dan material. Ukuran dan juga luas permukaan partikel, dapat berhubungan dengan sifat fisik, sifat kimia dan sifat-sifat farmakologi dari obat-obatan. Secara klinis, ukuran partikel obat dapat mempengaruhi pelepasan dari bentuk sediaan yang diberikan secara oral, parenteral, rektal dan topikal. Formulasi yang baik dari suspensi, emulsi dan tablet, baik stabilitas fisika dan respon farmakologi juga tergantung pada ukuran partikel yang ada dalam produk.

Banyak metode yang bisa digunakan untuk menentukan ukuran partikel. Mikroskopi, sieving, sedimentasi dan determinasi partikel adalah beberapa metode yang biasa digunakan.

Kecepatan alir serbuk ditentukan dengan cara mengukur waktu jatuh yang diperlukan oleh sejumlah serbuk yang ditaruh di dalam suatu corong sampai seluruh serbuk itu turun. Cara pengukuran tersebut di samping menentukan kecepatan alir serbuk juga dapat menetapkan sudut istirahat yaitu sudut yang dibentuk antara lereng timbunan serbuk dengan bidang datar.
Continue to Read

Indra peraba merupakan indera yang sederhana, umumnya tersebar pada kulit mamalia dan sedikit sekali pada vertebrata rendah. Kepekaan peraba pada manusia sangat besar, terutama di ujung jari dan bibir.

Klasifikasi reseptor antara lain:

  • Berdasarkan tipe energi khusus atau kepekaan terhadap modalitas tertentu

1. Termoreseptor (peka terhadap perubahan suhu).

2. Mekanoreseptor (peka terhadap sentuhan dan tekanan).

3. Kemoreseptor (peka terhadap perubahan kimiawi).

4. Osmoreseptor (peka terhadap perubahan tekanan osmotik).

  • Berdasarkan sumber rangsangan

1. Ekteroreseptor, terletak pada permukaan tubuh dan berespons terhadap rangsangan eksterna atau luar.

2. Proprioreseptor, berespons terhadap perubahan posisi dan pergerakan terutama berhubungan dengan sistem muskuloskeletal.

3. Interoreseptor, terletak pada visera/ alat dalam dan pembuluh darah.

  • Berdasarkan morfologi

1. Badan terakhir yang bebas/ terbuka (tanpa kapsul) yang tak berhubungan dengan tipe sel lainnya.

2. Badan akhir yang berkapsul (korpuskular) yang mengandung unsur bukan saraf di samping saraf badan akhir saraf.

Reseptor-reseptor yang terletak di alat indera peraba antara lain :

1.  Ujung Saraf Bebas

Serat saraf sensorik aferen berakhir sebagai ujung akhir saraf bebas pada banyak jaringan tubuh dan merupakan reseptor sensorik utama dalam kulit. Serat akhir saraf bebas ini merupakan serat saraf yang tak bermielin, atau serat saraf bermielin berdiameter kecil, yang semua telah kehilangan pembungkusnya sebelum berakhir, dilanjutkan serat saraf terbuka yang berjalan di antara sel epidermis. Sebuah serat saraf seringkali bercabang-cabang banyak dan mungkin berjalan ke permukaan, sehingga hampir mencapai stratum korneum. Serat yang berbeda mungkin menerima perasaan raba, nyeri dan suhu. Sehubungan dengan folikel rambut, banyak cabang serat saraf yang berjalan longitudinal dan melingkari folikel rambut dalam dermis.

Beberapa saraf berhubungan dengan jaringan epitel khusus. Pada epidermis berhubungan dengan sel folikel rambut dan mukosa oral, akhir saraf membentuk badan akhir seperti lempengan (diskus atau korpuskel merkel). Badan ini merupakan sel yang berwarna gelap dengan banyak juluran sitoplasma. Seperti mekanoreseptor badan ini mendeteksi pergerakan antara keratinosit dan kemungkinan juga gerakan epidermis sehubungan dengan jaringan ikat di bawahnya. Telah dibuktikan bahwa beberapa diskus merkel merespon rangsangan getaran dan juga resepor terhadap dingin.
Continue to Read

Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa selain polisakarida, lipid dan polinukleotida yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Protein adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein itu sendiri mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitroge dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein dirumuskan oleh Jons Jakob Berzelius pada tahun 1938.

Struktur protein ada 4 tingkatan yaitu :

  1. Struktur primer menunjukkan jumlah, jenis dan urutan asam amino dalam molekul protein (rentetan asam amino dalam suatu molekul protein)
  2. Struktur sekunder menunjukkan banyak sifat suatu protein, ditentukan oleh orientasi molekul sebagai suatu keseluruhan, bentuk suatu molekul protein (misalnya spiral) dan penataan ruang kerangkanya (ikatan hidrogen antara gugus N-H, salah satu residu asam amino dengan gugus karbonil C=O residu asam yang lain)
  3. Struktur tersier menunjukkan keadaan kecenderungan polipeptida membentuk lipatan tali gabungan (interaksi lebih lanjut seperti terlipatnya kerangka untuk membentuk suatu bulatan)
  4. Struktur kuartener menunjukkan derajat persekutuan unit-unit protein.

Ditinjau dari strukturnya, protein dapat dibagi dalam 2 golongan yaitu:

  1. Protein sederhana yang merupakan protein yang hanya terdiri atas molekul-molekul asam amino
  2. Protein gabungan yang merupakan protein yang terdiri atas protein dan gugus bukan protein. Gugus ini disebut gugus prostetik dan terdiri atas karbohidrat, lipid atau asam nukleat.

Protein sederhana menurut bentuk molekulnya dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:

  1. Protein fiber. Molekul protein ini terdiri atas beberapa rantai polipeptida yang memanjang dan dihubungkan satu sama lain oleh beberapa ikatan silang hingga merupakan bentuk serat atau serabut yang stabil. Protein fiber tidak larut dalam pelarut-pelarut encer, baik larutan garam, asam, basa ataupun alkohol. Berat molekulnya yang besar belum dapat ditentukan dengan pati dan sukar dimurnikan. Kegunaan protein ini hanya untuk membentuk struktur jaringan dan bahan, contohnya adalah keratin pada rambut.
  2. Protein globular. rotein globular pada umumnya berbentuk bulat atau elips dan terdiri atas rantai polipeptida yang terlibat. Protein globular/speroprotein berbentuk bola, protein ini larut dalam larutan garam dan asam encer, juga lebih mudah berubah di bawah pengaruh suhu, konsentrasi asam dan asam encer. Protein ini mudah terdenaturasi. Banyak terdapat pada susu, telur dan daging.

Reaksi-reaksi kahas pada protein (uji kualitatif):

  1. Reaksi Ninhidrin. Ninhidrin beraksi dengan asam amino bebas da protein menghasilkan warna biru. Reaksi ini termasuk yang paling umum dilakukan untuk analisis kualitatif protein dan produk hasil hidrolisisnya. Reaksi ninhidrin dapat pula dilakukan terhadap urin untuk mengetahui adanya asam amino atau untuk mengetahui adanya pelepasan protein oleh cairan tubuh.
  2. Reaksi Biuret. Bila larutan protein dalam suasana basa kuat direaksikan dengan larutan CuSO4 pekat, akan dihasilkan warna ungu. Warna yang dihasilkan dari reaksi tersebut disebabkan oleh ikatan koordinasi antara ion Cu2+ dengan pasangan elektron bebas dari N yang berasal dari protein dan pasangan elektron bebas dari O molekul air. Reaksi ini tidak berlaku untuk peptida.
  3. Reaksi Uji Millon untuk Tirosin. Reagen Millon adalah larutan asam nitrat yang mangandung raksa (I) nitrat dan raksa (II) nitrat. Bila reagn millon dicampurkan dengan larutan yang mengandung protein akan terbentuk endapan putih yang akan berubah merah bila dipanaskan.
  4. Uji Penetralan Titik Isoelektrik. Titik isoelektrik adalah daereah pH tertentu diman protein mempunyai selisih muatan, sehingga tidak bergerak dalam muatan listrik.

siggy

Kumarin adalah suatu metabolit dari tumbuhan yang sering dijumpai sebagai glikosidal. Kumarin mungkin juga berupa senyawa jadian yang terbentuk karena hidrolisis asam glikosil-o-hidroksi sinamat secara enzimatik dan kemudian segera terjadi siklikasi menjadi lakton, tepatnya lakton asam-o-hidroksisinamat. Hampir semua kumarin alam mempunyai oksigen ( hidroksil atau alkosil) pada C-7. Pada posisi lain dapat pula eroksigenasi dan sering pula terdapat rantai samping alkil (Robinson,1991).

760px-Coumarin_acsv.svg

Kumarin dapat disintesis dari reaksi anatar etilasetoasetat dengan resorsinol dan menggunakan asam sulfat pekat sebagai katalis melalui reaksi transesterifikasi. Reaksi transesterifikasi adalah suatu reaksi pertukaran gugus ester dengan gugus alkohol melalui mekanisme reaksi reversibel yang akhirnya membentuk suatu ester yang bentuknya berbeda. Reaksi transesterifikasi adalah beranalog langsung dengan hidrolisis asam atau basa. Dikarenakan reaksi transesterifikasi ini merupakan reaksi yang reversibel, biasanya digunakan alkohol secara berlebih (Fessenden & Fessenden, 1990).

Rekristalisasi adalah proses dimana zat terlarut dimurnikan dengan pengkristalan berturut-turut dari dalam suatu pelarut. Tahap-tahap dalam rekristalisasi :

  • Pelarutan
  • Penyaringan
  • Pemanasan
  • Pendinginan

Syarat pelarut yang baik untuk rekristalisasi yaitu :

  1. Memiliki daya pelarut yang tinggi pada suhu tinggi.
  2. Menghasilkan kristal yang baik dari senyawa yang dimurnikan
  3. Dapat melarutkan senyawa lain
  4. Mempunyai titik didih relatuf rendah (mudah terpisah dengan kristal murni)
  5. Pelarut tidak bereaksi dengan senyawa yang dimurnikan

References :

Fessenden, R.J. & J.S. Fessenden.1990.Kimia Organik.Diterjemahkan olej A. Hadyana. Jilid II. Edisi III. Erlangga.Jakarta

Robinson,T. 1991.Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. DIterjemahkan oleh K. Padmawinata. ITB. Bandung

siggy

Keasaman atau kebasaan suatu larutan merupakan factor yang penting dalam reaksi-reaksi kimia Kesetimbangan asam basa pun sangat penting dalam pemahaman titrasi asam basa. Ada beberapa teori asam basa yang digunkan dalam penjelasan mengenai suasana asam dan basa dari suatu zat (Christian,1994).
Teori asam basa Arrhenius emperkenalkan istilah asam sebagai zat-zat yang terionisasi (secara parsial atau sempurna) dalam air untuk memberikan ion hydrogen (hidronium), sedangkan suatu basa terionisasi dalam air menghasilkan ion hidroksil. Teori Arrhenius ini hanya berlaku dalam keadaan air yang digunakan sebagai pelarut (Christian,1994).
Teori asam basa berikutnya adalah Teori Brownsted-Lowry. Teori menyatakan bahwa asam adalah semua zat yang dapat memberikan atau mendonorkan proton, sedangkan basa adalah semua zat yang dapat menerima proton. Jadi, dapat dituliskan sebagai setengah reaksi :
Asam = H+ +Basa
Asam dan basa dari setengah reaksi disebut pasangan konjugat. Proton-proton bebas tidak terdapat dalam larutan, dan pasti ada penerima proton (basa) sebelum pendonor proton (asam) menghasilkan protonnya. Selain itu, ada teori Lewis yang menyatakan bahwa asam adlah zat yang menerima pasangan electron dan basa adalah zat yang mendaonorkan pasangan electron. teori Lewis ini membuktikan bahwa tidak hanya ion H+ yang menyatakan keberadaan suatu asam atau OH- untuk basa (Christian,1994).
Reaksi yang paling penting antara asam dan basa disebut reaksi netralisasi. Dalam larutan air, netralisasi yang terjadi antara suatu asam kuat dan basa kuat akan menghasilkan hasil akhir persamaan ion sebgai berikut :
H3O+(aq) + OH- –> 2H2O
atau bila digunakan H+ sebagai singkatan ino H3O+
H+(aq) + HCl(aq) –> NaCl(aq) + H2O
akan didapat suatu kesimpulan bahwa hasil akhir reaksi netralisasi dalam larutan adalah suatu garam dan air (Brady,1999).
Titrasi asam basa mencakup dua metode titrasi, yaitu asidimetri dan alkalimetri. Asidimetri adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa, sedangkan alkalimetri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam (Rifai,2008).
Larutan baku adalah suatu larutan yang konsentrsinya diketahui dengantepat, dapat digunakn untuk menetapkan kadar suatu larutan lain yang belum diketahui konsentrasinya. Larutan baku dapat dibedakan dalam larutan baku primer dan larutan baku sekunder. Larutan baku primer mengandung zat padat murni yang konsentrasinya diketahui dengan tepat, dapat digunakan untuk menetapkan konsentrasi larutan lain ayng belum diketahui. Larutan baku sekunder adalah larutan suatu zat yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan tepat karean berasal dari zat yang tidak pernah murni (bersifat higroskopis atau sangat mudah bereaksi dengan udara). Karakteristik dari larutan baku primer adalah harus tersedia dengan mudah dalam bentuk murni, zatharus stabil, tidak boleh higroskopis, dan memiliki massa molekul atau berat molekul yang cukup besar. Karakteristik dari larutan baku sekunder adalah kebalikan dari larutan baku primer. Oleh sebab itu, sebelum digunakan, larutan baku sekunder harus dibakukan atau distandardisasi dengan larutan baku primer (Suhana,2002)

Reference :
Brady, J.E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur.Edisi Kelima.Jilid I.Binarupa Aksara.Jakarta
Christian, G.D. 1994. Analytical Chemistry.John Wiley & Sons. New York.
Rifai,A.2008.Asidimetri dan Alkalimetri. http://arifbio.multiply.com.journal/item/7?&item_id=7&view:respires:threaded
Suhana, N.2002.Larutan Baku Primer dan Sekunder. http://www.geocitis.com/nana_suhana2002/

Special thanks to Dwaya Agnesia, ^^siggy

Postingan kedua nih…

Berhubung praktikum Kimia Fisik II sudah pernah kami rasakan dan sudah berakhir pula praktikum tersebut,,

maka disini kami akan ikut berpartisipasi untuk men-share laporan akhir kami..

hihi..

ya semoga saja bisa membantu untuk panduan membuat laporan..hhe..

LAPORAN AKHIR KIMIA FISIK II

di praktikum ini terdapat 11 modul praktikum, yaitu :

1. Kerapatan Oksigen

2. Tegangan Permukaan Metode Berat Tetes

3. Viskositas

4. Tetapan Laju Reaksi dan Energi Aktivasi

5. Koefisien Distribusi dan Kesetimbangan Reaksi

6. Analisis Kelarutan Fase

7. Panas Reaksi dan Panas Netralisasi

8. Penentuan Titik Lebur

9. Adsorpsi

10. Kromatografi Kertas dan Kromatografi Lapis Tipis

11. Larutan Non-Elektrolit (Hukum Roult)

jangan lupa kasih comment yaa…..

semoga bisa membantu…

sign
n

Setelah melewati masa-masa penuh perjuangan, masa-masa dimana harus nongkrong di perpus berjam-jam, ngubek-ngubek mbah Google buat nyari teori. Kita berdua Odet dan Tya akhirnya memutuskan *jiahhh* buat bikin blog yang isinya materi-materi yang Insya Allah bisa membantu. Karena kita udah ngalamin gimana susahnya nyari teori ataupun info tentang matakuliah ataupun praktikum, kita disini sebisa mungkin akan memberikan entah teori matkul, teori praktikum ataupun info-info yang berhubungan dengan dunia kefarmasian. Mudah-mudahan blog ini bisa membantu adik-adik kelas kami atau siapapun yang memang sedang membutuhkan.